Kenaikan harga RAM beberapa waktu belakangan ini sudah sangat terasa dampaknya. Dari smartphone yang harganya makin melambung, laptop yang jadi lebih mahal, hingga komponen elektronik lainnya yang ikut terdampak.
Tapi, ternyata, bukan cuma kita sebagai konsumen yang terkena imbas dari krisis ini, banyak pihak lain yang juga merasakan hal yang sama. P
rodusen RAM terpaksa mengubah strategi produksi, perusahaan-perusahaan elektronik harus menaikkan harga produk mereka, dan bahkan sektor teknologi lainnya, seperti AI, malah mendapatkan keuntungan dari situasi ini.
Jadi, siapa saja sebenarnya yang terpengaruh? Yuk, kita bahas lebih dalam bagaimana krisis RAM ini mengguncang banyak pihak di industri teknologi!
Pihak Terdampak Kenaikan Harga RAM
Hal semacam ini memang sudah biasa terjadi dalam industri teknologi, dimana ada kenaikan harga suatu komponen hingga berdampak pada banyak sektor lain yang terkait.
Begitu juga dengan RAM yang sangat viral untuk berbagai macam jenis perangkat, pastilah kenaikan harganya juga mempengaruhi banyak hal. Kira-kira siapa saja yang akan terdampak?
Produsen RAM

Krisis RAM yang sedang melanda industri teknologi ini dimulai dari produsen RAM itu sendiri. Di tengah lonjakan permintaan dari sektor AI, banyak produsen besar yang mulai menggeser fokus produksi mereka dari RAM konsumen ke HBM (High Bandwidth Memory) yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan AI.
Misalnya, brand Crucial yang selama ini terkenal di kalangan konsumen RAM, terpaksa mundur dari pasar RAM konsumer. Kenapa? Karena permintaan HBM dari perusahaan AI seperti Google dan Microsoft terus melonjak, sementara pasar RAM biasa semakin menurun.
Samsung, yang nggak mau ketinggalan, memutuskan untuk menaikkan kapasitas produksinya untuk HBM hingga 50% pada akhir 2026. Begitu juga dengan SK Hynix, yang mengikuti langkah serupa.
Produsen-produsen besar lainnya juga mulai mengalihkan perhatian mereka, yang tentu saja membuat pasar RAM konsumen mengalami kekosongan pasokan.
Bahkan ada rumor yang menyebutkan kalau ASUS akan mulai memproduksi RAM DDR mereka sendiri untuk mengatasi krisis ini, karena kebutuhan RAM konsumen semakin terbatas.
Produsen Barang Elektronik

Tentu saja, produsen barang elektronik seperti smartphone, laptop, dan PC juga merasakan dampaknya. Semakin terbatasnya pasokan RAM untuk konsumen berarti mereka harus berhadapan dengan masalah biaya produksi yang terus meroket.
Salah satu dampaknya adalah harga barang elektronik pun ikut naik. Kalau kamu perhatikan, mulai dari smartphone hingga laptop, hampir semua produsen terpaksa mengumumkan kenaikan harga.
Contohnya, harga smartphone yang diprediksi akan naik mulai dari 8% hingga 40% pada tahun 2026. Smartphone merk-merk besar seperti Samsung dan Xiaomi, serta laptop dari Lenovo, ASUS, HP, dan Acer, semuanya terpengaruh oleh krisis ini.
Beberapa produsen bahkan mengeluarkan surat edaran yang memberitahukan bahwa harga produk mereka akan terus meningkat, dan mereka menyarankan konsumen untuk membeli lebih cepat sebelum harga makin mahal.
Konsumen

Dan yang pastinya paling terdampak oleh krisis RAM ini adalah kita sebagai konsumen. Bukan cuma harga yang naik, pilihan produk di pasaran juga semakin terbatas.
Dulu, kamu bisa memilih berbagai macam perangkat dengan RAM yang bervariasi, mulai dari kapasitas rendah hingga tinggi, sesuai dengan kebutuhan.
Namun sekarang, variasi produk semakin mengecil, dan harga yang semakin tinggi memaksa konsumen untuk merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan produk dengan spesifikasi yang diinginkan.
Penjual RAM dan Barang Elektronik

Gimana dengan penjual RAM dan barang elektronik? Mereka juga nggak luput dari dampak krisis ini. Harga dari produsen yang naik otomatis diteruskan kepada penjual, baik itu di marketplace maupun toko resmi.
Kalau kamu sering belanja di marketplace, pasti udah mulai ngerasain sendiri kan, harga-harga produk naik? Misalnya, smartphone seperti POCO X7 Pro dan Motorola Edge, yang dulu dijual sekitar Rp3 juta, kini harganya naik jadi Rp4 juta hingga Rp5 juta.
Begitu juga dengan harga RAM dan SSD Samsung, yang melonjak dari harga Rp100 ribu hingga Rp400 ribu menjadi lebih dari Rp1 juta!
Banyak konsumen yang mulai menunda pembelian karena harga yang nggak masuk akal, sementara penjual tetap harus menjalankan usaha mereka.
Perusahaan AI

Tapi, ada satu pihak yang justru untung banget dari krisis RAM ini, yaitu perusahaan AI. Seperti yang kita tahu, salah satu faktor utama yang menyebabkan lonjakan permintaan RAM adalah industri AI yang terus berkembang pesat.
Dengan semakin berkembangnya teknologi AI, perusahaan-perusahaan seperti Google, Microsoft, dan OpenAI semakin gencar membeli memori dan HBM dari produsen RAM.
Dengan permintaan yang terus melonjak, perusahaan-perusahaan AI ini nggak cuma bertahan, tapi juga semakin tumbuh. Mereka terus mendapatkan keuntungan dari krisis ini, karena semakin banyak inovasi yang dilakukan dan semakin banyaknya perusahaan baru yang bermunculan di industri AI.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, krisis RAM ini memang berdampak pada hampir semua pihak, dari produsen RAM, perusahaan elektronik, hingga konsumen.
Meskipun sebagian besar pihak merasakan kerugian, ada satu sektor yang justru diuntungkan, yaitu perusahaan AI. Sektor ini terus tumbuh pesat, meningkatkan permintaan akan memori dan HBM, yang membuat krisis RAM ini makin memburuk.
Jadi, kita bisa melihat bahwa krisis RAM ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah. Dengan semakin meningkatnya permintaan dari industri AI, krisis ini diperkirakan akan terus berlanjut, dan dampaknya akan semakin luas.




