Kenapa Huruf Keyboard QWERTY Bukan ABCD? Ternyata Ini Sejarahnya!

Sejarah Keyboard QWERTY
Sejarah Keyboard QWERTY

Pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa susunan huruf di keyboard kita bukan ABCD seperti urutan alfabet yang kita kenal sejak kecil? Kenapa justru QWERTY yang jadi standar di hampir semua perangkat, mulai dari komputer hingga smartphone?

Meskipun rasanya lebih mudah menghafal urutan huruf ABCD, faktanya susunan QWERTY ternyata punya alasan tersendiri yang menarik. Ada sejarah panjang yang melatarbelakangi hal tersebut. Penasarankan?

Sejarah Keyboard QWERTY

Sejarah Keyboard QWERTY
Sejarah Keyboard QWERTY

Kalau kita lihat, susunan huruf di keyboard komputer atau smartphone yang kita gunakan setiap hari ini memang agak aneh, ya? Alih-alih mengikuti urutan alfabet yang sudah kita kenal, kenapa harus ada urutan seperti QWERTY?

Ternyata, alasan di balik penempatan huruf-huruf ini bukan hanya soal kebiasaan, tapi ada sejarah panjang yang menjelaskan semuanya.

Persoalan Teknis Mesin Ketik Zaman Dulu

Pada awalnya, mesin ketik yang pertama kali ditemukan menggunakan sistem mekanik yang cukup sederhana. Di dalamnya terdapat batang logam atau yang disebut typebars.

Bayangkan, batang logam yang dipakai untuk mengetik ini bergerak dengan cara yang cukup rapat dan bisa saling bertabrakan jika kamu mengetik terlalu cepat.

Nah, ini yang menyebabkan mesin ketik bisa macet. Maka, penemunya, termasuk Christopher Sholes, mulai mencari solusi agar huruf-huruf yang sering digunakan bersama tidak diletakkan terlalu berdekatan.

Misalnya, huruf “T” dan “H” atau “E” dan “R” yang sering muncul dalam kata-kata seperti “the”, jika ditempatkan terlalu dekat, bisa menyebabkan typebars saling bertabrakan.

Alhasil, huruf-huruf ini disusun sedemikian rupa agar lebih jarang bersebelahan. Itu sebabnya kita menemukan susunan yang tidak sesuai urutan alfabet, seperti di bagian kiri atas (Q, W, E, R, T, Y) dan seterusnya.

Meskipun sekarang kita sudah tidak lagi menggunakan mesin ketik, masalah teknis ini adalah salah satu alasan kenapa QWERTY tetap bertahan sampai sekarang.

Solusi yang Ditemukan oleh Para Penemu

Christopher Sholes dan timnya ternyata sangat berpikir matang soal pengaturan posisi huruf di mesin ketik pertama mereka. Mereka sadar kalau mesin ketik pada zaman itu belum bisa mengikuti kecepatan tangan manusia yang sudah semakin cepat dalam mengetik.

Jadi, mereka merancang agar mesin ketik lebih tahan lama dan tidak mudah macet. Dengan cara ini, meskipun huruf-huruf tersebut tidak teratur sesuai abjad, mesin ketik bisa bekerja lebih efisien dan tahan lama.

Karena itu juga, meskipun susunan huruf pada mesin ketik zaman dulu tidak terlalu memikirkan kenyamanan dalam mengetik, para penemu harus berpikir praktis agar mesin ketik tetap dapat berfungsi dengan baik.

Jadi, bisa dibilang, QWERTY pertama kali dirancang lebih untuk menghindari masalah teknis ketimbang memikirkan kecepatan mengetik.

Strategi Bisnis Remington

Sejarah Keyboard QWERTY
Sejarah Keyboard QWERTY

Kita semua tahu bahwa suatu sistem atau teknologi akan lebih mudah diterima ketika ada pihak yang mendukung dan mempopulerkannya, bukan?

Begitu juga dengan susunan QWERTY, yang akhirnya menjadi standar dunia, bukan karena efisiensinya, tapi karena strategi bisnis yang sangat jitu.

Kerja Sama dengan Remington

Ternyata, susunan huruf QWERTY yang kita kenal sekarang ini tidak hanya disebarkan oleh para penemu mesin ketik, tapi juga dipopulerkan oleh perusahaan besar pada zamannya—yaitu Remington.

Setelah Christopher Sholes bekerja sama dengan Remington, mereka mulai menyadari potensi besar dari pasar mesin ketik, baik di dunia pendidikan maupun bisnis.

Remington melihat ini sebagai peluang untuk menjual lebih banyak mesin ketik, dan strategi yang mereka pilih adalah mengajarkan orang-orang untuk mengetik menggunakan susunan QWERTY.

Pada saat itu, Remington tidak hanya menjual mesin ketik, tetapi juga menjual kursus mengetik. Mereka bahkan memberikan mesin ketik secara gratis ke sekolah-sekolah dan lembaga pelatihan dengan syarat mereka harus menggunakan sistem QWERTY.

Dengan cara ini, Remington berhasil menyebarkan penggunaan QWERTY secara masal, yang pada akhirnya menjadikan susunan huruf ini sebagai standar global.

Penyebaran QWERTY Melalui Lembaga Pendidikan

Tidak hanya di sekolah-sekolah, tetapi kursus mengetik menggunakan sistem QWERTY juga menjadi bagian dari pelatihan di banyak tempat kerja. Semakin banyak orang yang dilatih dan terbiasa dengan susunan ini, semakin susah bagi mereka untuk beralih ke sistem yang lain.

Seiring berjalannya waktu, susunan QWERTY mulai dianggap sebagai norma yang sudah terlanjur diajarkan, sehingga perubahan menjadi sangat sulit dilakukan.

Bahkan meskipun ada alternatif lain yang lebih efisien, kebiasaan dan pengaruh ekonomi telah memastikan bahwa QWERTY tetap bertahan hingga kini.

Mengapa QWERTY Tetap Bertahan Meskipun Bukan Paling Efisien?

Sejarah Keyboard QWERTY
Sejarah Keyboard QWERTY

Banyak orang, terutama mereka yang telah terbiasa mengetik dengan touch typing, merasa bahwa susunan QWERTY sebenarnya kurang efisien. Kenapa?

Karena, dengan adanya teknik mengetik tanpa melihat keyboard yang ditemukan setelahnya, kita bisa mengetik lebih cepat jika huruf-hurufnya diatur sedemikian rupa agar jari bisa bergerak lebih efisien.

Namun, meskipun QWERTY dianggap kurang efisien, sistem ini tetap bertahan. Kenapa bisa begitu?

Tidak Ada Sentuhan Tipe dan Kecepatan Mengetik

Saat QWERTY pertama kali dirancang, teknik mengetik touch typing (mengetik tanpa melihat keyboard) belum ada. Sebagai gantinya, orang-orang menggunakan metode yang disebut “buru dan patuk”, yaitu mencari huruf satu per satu dengan mata tetap tertuju pada keyboard.

Oleh karena itu, penempatan huruf-huruf tidak terlalu mempertimbangkan faktor kecepatan atau kenyamanan. Yang lebih penting saat itu adalah agar mesin ketik bisa bekerja dengan baik tanpa macet.

Sayangnya, setelah touch typing ditemukan, susunan huruf di keyboard seperti QWERTY ternyata dianggap kurang efisien. Kecepatan mengetik bisa lebih ditingkatkan jika posisi huruf disusun dengan lebih strategis.

Namun, karena QWERTY sudah sangat populer dan banyak diajarkan, mengubahnya pun bukanlah pilihan yang mudah.

QWERTY di Era Modern dan Ketidakefisienannya

Walaupun QWERTY tidak efisien dalam hal kecepatan mengetik, kebiasaan dan standarisasi industri membuat sistem ini sulit untuk digantikan.

Bahkan, meskipun ada alternatif yang lebih efisien, seperti sistem Dvorak yang dirancang khusus untuk meningkatkan kecepatan mengetik, QWERTY tetap dipertahankan di banyak tempat.

Sebagai contoh, meskipun teknologi komputer yang lebih canggih hadir, banyak orang yang tetap memilih untuk menggunakan keyboard QWERTY karena sudah terbiasa dengan susunan tersebut.

Faktor Efek Domino

Sejarah Keyboard QWERTY
Sejarah Keyboard QWERTY

Jika kamu pernah merasa bahwa perubahan teknologi selalu membutuhkan waktu lama untuk diterima, maka kamu tidak sendirian. Dalam kasus QWERTY, standarisasi industri yang sudah dilakukan sejak lama menjadikan sistem ini begitu sulit untuk digantikan, meskipun ada sistem lain yang lebih efisien.

QWERTY dan Penyebaran ke Seluruh Dunia

Begitu Remington menetapkan QWERTY sebagai standar pada mesin ketik mereka, sekolah-sekolah dan tempat pelatihan stenografi ikut mengadopsinya.

Dengan semakin banyaknya orang yang terbiasa dengan QWERTY, standarisasi ini menjadi semakin kuat. Hal yang sama terjadi di dunia komputer, di mana QWERTY tetap digunakan meskipun ada teknologi yang lebih baru dan lebih efisien.

Faktor Kebiasaan dan Ekosistem

Sama halnya dengan teknologi lain yang kita gunakan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam kebiasaan dan ekosistem yang sudah terbentuk.

Perubahan memang bisa terasa mahal dan penuh risiko, itulah kenapa meskipun sistem lain mungkin lebih efisien, kebiasaan kita dengan QWERTY tetap bertahan. Inilah yang membuat QWERTY menjadi standar global yang sulit digantikan.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa alasan susunan huruf di keyboard kita adalah QWERTY, bukan karena lebih efisien, melainkan karena sejarah panjang yang melibatkan masalah teknis, strategi bisnis, dan kebiasaan yang sudah terbentuk.

Meskipun QWERTY bukanlah pilihan terbaik dalam hal efisiensi mengetik, keberadaannya yang sudah sangat populer dan tersebar luas membuatnya terus bertahan hingga kini.