Persaingan di pasar smartphone kini makin sengit, apalagi dengan berbagai inovasi yang terus bermunculan. Salah satu topik yang nggak pernah habis dibahas adalah bagaimana menciptakan smartphone dengan baterai awet, tapi tetap tipis dan ringan.
Nah, di sinilah teknologi baterai silicon carbon muncul sebagai inovasi yang bisa jadi game-changer. Beberapa merek besar seperti Xiaomi, Oppo, hingga Motorola sudah mulai beralih ke teknologi ini.
Namun, ada dua nama besar yang sampai sekarang masih belum menggunakan baterai silicon carbon, yaitu Samsung dan Apple. Lantas, apa sih alasan di balik keputusan mereka? Kenapa mereka masih bertahan dengan teknologi lama? Yuk, kita kulik lebih dalam!
Apa Itu Baterai Silicon Carbon?

Baterai silicon carbon (Si/C) bisa dibilang jadi salah satu inovasi terbaru dalam teknologi baterai. Kalau selama ini kamu sudah cukup familiar dengan baterai lithium yang digunakan di hampir semua smartphone, nah, teknologi yang lebih mau.
Baterai silicon carbon menggabungkan bahan grafit anoda dengan silikon, dan penggabungan ini memungkinkan baterai untuk menyimpan energi dalam jumlah yang lebih besar dalam ukuran yang lebih kecil.
Bayangin aja, kamu bisa mendapatkan kapasitas yang lebih besar tanpa harus membuat smartphone jadi tebal. Baterai ini juga pertama kali dikenalkan pada 2023, dan langsung digunakan di beberapa produk, salah satunya di HONOR Magic 5 Pro.
Perbedaan utama antara baterai lithium dan silicon carbon adalah kemampuan penyimpanan energi yang lebih besar pada ukuran yang lebih kecil.
Ini bisa bikin HP jadi lebih tipis, tapi kapasitas baterainya tetap bisa besar, bahkan hingga 6000 mAh, 7000 mAh, atau lebih. Selain itu, baterai silicon carbon juga lebih ramah lingkungan, karena proses produksinya menghasilkan jejak karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan baterai lithium.
Keunggulan Baterai Silicon Carbon

Dibandingkan baterai Lithium, teknologi yang satu ini punya beberapa keunggulan, antara lain:
Kapasitas Lebih Besar
Baterai silicon carbon memang membawa banyak keunggulan dibandingkan dengan baterai lithium yang sudah kita kenal. Yang pertama dan paling terlihat adalah kapasitasnya.
Baterai ini mampu menyimpan lebih banyak energi dalam ukuran yang lebih kecil. Misalnya, smartphone dengan baterai silicon carbon bisa punya kapasitas hingga 7000 mAh meskipun bodinya tetap slim.
Dan yang lebih menariknya lagi, karena baterai ini lebih padat, itu artinya daya tahan baterai bisa lebih lama tanpa mengorbankan desain tipis smartphone.
Selain itu, baterai ini juga jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan baterai lithium. Proses produksinya lebih bersih dan menghasilkan jejak karbon yang lebih rendah.
Bisa Untuk HP Lipat
Selain itu, baterai silicon carbon juga sangat ideal untuk digunakan pada teknologi smartphone lipat. Kenapa? Karena HP lipat membutuhkan baterai yang cukup besar untuk mendukung fungsi lipatan yang kompleks, tapi tetap harus ringkas agar nggak membuat perangkat jadi berat atau tebal.
Inilah kenapa banyak produsen HP seperti HONOR mulai mengadopsi teknologi ini. Baterai silicon carbon memungkinkan mereka mengemas lebih banyak energi tanpa harus menambah ketebalan perangkat, membuat HP lipat bisa lebih fungsional dan praktis.
Mengapa Samsung dan Apple Belum Menggunakan Baterai Silicon Carbon?

Di samping banyak brand HP yang mulai beralih ke teknologi baterai Silicon Carbon, dua nama seperti Samsung dan Apple justru tidak melakukan langkah yang sama. Mereka masih bertahan dengan teknologi baterai Lithium, kenapa begitu?
Faktor Keamanan
Meskipun teknologi ini terdengar canggih, ada beberapa alasan kenapa Samsung dan Apple masih belum beralih ke baterai silicon carbon. Salah satu kekhawatiran utamanya adalah masalah keamanan.
Baterai silicon carbon memiliki karakteristik yang unik, yaitu saat mengisi daya, baterai ini bisa membesar hingga 300%.
Hal ini tentunya menimbulkan potensi risiko, karena perubahan ukuran yang drastis bisa menyebabkan baterai mengalami pembengkakan yang berlebihan atau bahkan merusak perangkat.
Apple dan Samsung tentu nggak mau mengambil risiko besar seperti yang terjadi pada Samsung Galaxy Note 7, yang sempat mengalami masalah dengan baterainya yang mudah meledak.
Kekhawatiran Terhadap Umur Baterai
Selain masalah keamanan, ada juga masalah terkait daya tahan baterai. Baterai silicon carbon memang unggul dalam hal kapasitas dan efisiensi, tapi sayangnya, baterai ini memiliki umur pemakaian yang lebih pendek dibandingkan dengan baterai lithium.
Samsung dan Apple menganggap bahwa meskipun baterai ini bisa menyimpan energi lebih banyak, masa pakainya yang lebih singkat bisa menjadi masalah besar.
Inovasi Baterai Silicon Carbon di Perusahaan Lain

Seperti yang sudah disebutkan, beberapa merek besar sudah mulai mengadopsi baterai silicon carbon dalam produk mereka. Motorola, OnePlus, dan Xiaomi misalnya, telah memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan kapasitas baterai perangkat mereka.
Bahkan, beberapa di antaranya sudah bisa menghadirkan smartphone dengan kapasitas baterai besar seperti 6000 mAh, 7000 mAh, atau lebih, dalam desain yang tetap ramping.
Sementara itu, Samsung dan Apple masih bertahan dengan kapasitas standar 4000-5000 mAh di banyak produk mereka, meskipun ada model tertentu yang menawarkan baterai lebih besar.
Jika melihat kecepatan inovasi dari merek lain, bisa dibilang Samsung dan Apple mulai tertinggal dalam hal pengembangan baterai smartphone yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Kapan Samsung dan Apple Akan Beralih ke Baterai Silicon Carbon?
Walaupun belum ada kejelasan kapan Samsung dan Apple akan beralih ke baterai silicon carbon, ada beberapa rumor yang mengatakan bahwa keduanya mungkin akan mengadopsi teknologi ini dalam beberapa tahun ke depan.
Misalnya, Samsung Galaxy S25 Edge dikabarkan akan menggunakan baterai silicon carbon, namun pada akhirnya rilis dengan baterai lithium biasa.
Begitu juga dengan iPhone Air yang sempat disebut-sebut akan menggunakan baterai ini, tetapi kenyataannya Apple memilih untuk tetap menggunakan baterai lithium.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, keputusan Samsung dan Apple untuk tidak buru-buru beralih ke baterai silicon carbon bisa jadi langkah yang bijak. Meskipun teknologi ini menjanjikan, mereka lebih memilih untuk menunggu hingga baterai ini lebih aman dan tahan lama.
Namun, dengan cepatnya inovasi di pasar, Samsung dan Apple perlu berhati-hati agar tidak tertinggal terlalu jauh dalam hal teknologi baterai yang lebih efisien.



